Puputan Badung (1906)

Pada tanggal 27 Mei 1904, kapal dagang Srikomala terdampar di Pantai Sanur.  Menurut Pemerintah Belanda, kapal tersebut membawa banyak barang yang berharga dan dinyatakan hilang karena dicuri dan dirampok oleh penduduk di sekitar Padang Galak Sanur.  Padahal rakyat Sanur merasa telah memberi pertolongan dan menyerahkan muatan dengan rapi kepada Syahbandar.  Namun Controller Liefrink dari Batavia meminta tebusan atas barang yang dinyatakan hilang atau dirampok.  Dengan alasan ini terjadilah penyerangan terhadap Kerajaan Badung.  Pada tanggal 20 September 1906, pagi-pagi buta Kota Denpasar dihujani tembakan meriam Belanda dari pantai Sanur.  Raja Badung beserta seluruh keluarganya, abdi dan prajurit bertekad melakukan perlawanan sampai mati – tekad ini di kenal dengan istilah PUPUTAN – maka terjadilah peperangan sengit, saling tusuk, saling tikam.  Dengan bersenjatakan keris dan tombak serta pakaian serba putih, Laskar Badung menyerbu dan menerjang pasukan Belanda.  Korban’pun bergelimpangan, darah mengalir, membeku, senjata perang berserakan termasuk jasad Raja Badung

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *